Yang Tersisa Dari Frankfurt Book Fair 2015

adalah optimisme bahwa dunia buku anak Indonesia akan menjadi lebih baik.

 

FBF 2015 adalah kesempatan pertama Litara berpartisipasi dalam ajang pameran buku internasional. Bersama tiga penerbit buku anak lain, Litara menempati hall khusus buku anak, yaitu Hall 3.0. Hall ini terpisah agak jauh dari pavilion, arena pameran utama Indonesia sebagai Guest of Honour, dan Hall 4.0, hall utama tempat penerbit-penerbit co-exhibitor berpameran.

 

DSC_0400

 

Sebelum keberangkatan, Litara telah membuat janji untuk bertemu dengan penerbit-penerbit dari India, Amerika, Kanada, dan Cina. Pada pertemuan-pertemuan ini Litara menegaskan bahwa Litara adalah penerbit kecil yang belum memfokuskan pada membeli hak cipta dari penerbit negara lain. Kami hanya menawarkan buku-buku kami untuk diterjemahkan dan diterbitkan di negara lain. Beberapa penerbit terkesan dengan kualitas buku-buku Litara yang menurut mereka sangat unik. Mereka meminta file pdf beberapa judul buku, dan hingga kini, interaksi daring masih berlangsung.

 

Yang mengesankan bagi Litara adalah kesempatan untuk terhubung dengan penerbit-penerbit kecil di beberapa negara, misalnya Spanyol dan Jerman, yang memiliki visi yang sama dengan Litara. Penerbit-penerbit kecil ini juga menerbitkan beberapa judul buku dalam setahun.Buku-buku ini berkualitas sangat tinggi dan dikerjakan dalam waktu yang lama sehingga mencapai kualitas estetik ilustrasi dan sastrawi yang sempurna. Kami saling menunjukkan dan mengagumi buku satu sama lain. Kami sepaham bahwa anak-anak, di manapun mereka berada, membutuhkan buku-buku sastra anak dengan kualitas cerita dan ilustrasi yang mengembangkan kecerdasan estetik dan daya imajinasi mereka.

 

DSC_0493

 

Buku-buku anak perlu menjadi cermin identitas budaya. Sebagaimana penerbit lain mengagumi buku-buku Litara yang sangat bernuansa Indonesia, Litara beruntung bisa melihat buku-buku yang sangat bernuansa budaya Meksiko,  India, Iran, di tengah gempuran buku-buku dengan gaya ilustrasi khas Disney  yang mewabah di banyak negara.

 

Antusiasme pengunjung FBF terhadap buku-buku yang unik terlihat dari ketertarikan mereka terhadap buku-buku Litara yang bernuansa tradisional yang kental. Misalnya, pengunjung pameran umumnya mampir untuk mengagumi “Mandala” yang bersampul hitam, “Alat Musik Paling Hebat,” yang bernuansa hitam-putih, dan “Srinti” yang berwarna monokrom. Pembatas buku yang diambil dari ilustrasi buku-buku Litara pun habis dikoleksi oleh pengunjung.

 

DSC_0792a

 

Obrolan-obrolan yang menyenangkan, dan kemudian menjadi personal, tentang budaya pun bergulir. Kami menjelaskan topeng Cirebon, reog Ponorogo, Barongsai Imlek, batik, dan alat-alat musik tradisional Indonesia kepada pengunjung yang antusias bertanya. Seorang remaja Jerman membeli buku Mandala untuk dihadiahkan kepada seorang sahabatnya yang pernah berlibur ke Indonesia. Seorang nenek Jerman membeli sebuah buku dalam Bahasa Indonesia, katanya, untuk ditunjukkan kepada tamu kecil dari Indonesia yang suatu hari akan mampir ke rumahnya (rumahnya sudah biasa dikunjungi oleh anak-anak dari manca negara).

 

Kami juga bangga buku-buku Litara dikoleksi oleh pemilik sebuah museum buku anak di Jerman. Sebuah perpustakaan lokal di Jerman juga mengoleksi satu set buku Litara berbahasa Indonesia untuk melengkapi koleksi buku manca negaranya. Beberapa pengunjung yang pernah berlibur ke Indonesia dan memiliki keturunan Indonesia tampak senang ketika membeli lalu menceritakan budaya Indonesia di buku kepada anak atau pasangannya. Banyak orangtua Indonesia yang tinggal di Jerman dan negara Eropa lain pun mengoleksi buku-buku Litara untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak mereka tentang budaya Indonesia. Mereka berkata bahwa anak-anak mereka akan membutuhkan buku-buku Litara ketika harus mempresentasikan budaya Indonesia di sekolah.

 

DSC_0030aa

 

Minat dan keingintahuan pengunjung pameran terhadap Budaya Indonesia ini tampaknya juga menjadi satu hal yang menyebabkan buku-buku Litara nyaris habis terjual di pavilion Indonesia. Di antara koleksi buku-buku tentang Indonesia yang dijual di sana, buku Litara hanya tersisa tiga eksemplar saja dari 45 buku yang dipajang.

 

Memang benar, buku anak seharusnya dapat menjadi duta budaya. Keikutsertaan di FBF ini memberikan motivasi bagi Litara untuk konsisten mengembangkan bacaan anak berkualitas tinggi yang mengeksplor lebih banyak lagi tentang keragaman Indonesia.

 

 

Sofie Dewayani

 

catatan:
Artikel ini merupakan lanjutan artikel yang dimuat di Media Indonesia tanggal 23 November 2015 berjudul “Buku Anak dan Identitas Indonesia di FBF 2015”.

Quick Contact ^
We want to thank you for contacting us through our website and let you know we have received your information. A member of our team will be promptly respond back to you.