Gender Dalam Cerita Anak

Ditulis Oleh Sofie Dewayani (Ketua Yayasan Litara)

Memasuki abad ke-21 ini, kesetaraan gender mungkin dianggap sudah usang. Wanita dan anak perempuan di Indonesia kini menikmati akses ke pendidikan, layanan kesehatan, layanan kesejahteraan sosial, juga memiliki peran sosial dan politik yang lebih baik dibandingkan pendahulunya di masa lampau. Namun, kesetaraan dalam kehidupan ini ternyata belum terefleksikan dengan baik dalam buku anak di Indonesia.


Hal ini cukup memprihatinkan mengingat buku-buku cerita menemani tumbuh-kembang anak dan membentuk jati diri mereka saat bertumbuh dewasa. Anak mengembangkan pemahaman tentang peran dan identitas gender dengan mengamati contoh kesetaraan (atau ketimpangan) gender baik dalam kehidupan nyata maupun dalam media, termasuk buku. Apabila mereka melihat praktik dan representasi gender yang stereotipikal dalam buku, jati diri mereka pun akan terbentuk sesuai dengan stereotip itu.


Hal ini cukup memprihatinkan mengingat buku-buku cerita menemani tumbuh-kembang anak dan membentuk jati diri mereka saat bertumbuh dewasa. Anak mengembangkan pemahaman tentang peran dan identitas gender dengan mengamati contoh kesetaraan (atau ketimpangan) gender baik dalam kehidupan nyata maupun dalam media, termasuk buku. Apabila mereka melihat praktik dan representasi gender yang stereotipikal dalam buku, jati diri mereka pun akan terbentuk sesuai dengan stereotip itu.


Sayangnya, di era abad ke-21 ini, pembaca anak masih melihat banyak peran perempuan yang tradisional, misalnya terkait pengasuhan (sebagai ibu, nenek, kakak perempuan yang mengayomi dll) di ruang domestik dalam buku anak; begitu pula sifat submisif wanita dan anak perempuan yang mengasihi, mengasuh, dan menasihati. Kita mengenal peran stereotipikal ini dalam cerita rakyat indonesia yang hingga ini masih banyak ditulis ulang dan diterbitkan. Pengisahan sosok bapak yang bekerja di ruang publik dan ibu yang melakukan pekerjaan domestik, juga pembedaan karakter tokoh anak laki-laki yang berani, jahil, petualang, dari sifat anak perempuan yang lembut dan pintar masih kental mewarnai cerita anak. Bahkan lazimnya, pembaca anak dan dewasa secara otomatis akan mengidentikkan tokoh kancil, buaya, harimau dalam fabel cerita rakyat dengan tokoh berjenis kelamin laki-laki ketimbang perempuan.


Pembaca anak memerlukan alternatif cerita anak dengan penokohan dan peran gender yang tidak biasa. Mereka perlu mengenali tokoh anak perempuan dengan karakter yang tidak stereotipikal, yang mendobrak kelaziman pembagian peran laki-laki dan perempuan.


Dalam kehidupan sehari-hari, figur perempuan hebat sebetulnya banyak ditemui dalam kehidupan anak-anak. Dengan menuangkan figur hebat ini dalam cerita anak, anak meluangkan waktu untuk mengenali tokoh-tokoh ini dengan lebih mendalam dan mendiskusikannya. Ini adalah salah satu tujuan dihadirkannya seri cerita “Anak Perempuan Hebat” dalam platform Let’s Read yang dikembangkan oleh Litara bekerjasama dengan the Asia Foundation dan didukung oleh Estee Laudaer ini.


Menghadirkan Tokoh Wanita Hebat Dalam Sejarah

Anak-anak diharapkan mengambil suri tauladan dari tokoh-tokoh dalam sejarah. Namun, masih sedikit upaya yang dilakukan orang dewasa untuk mendekatkan mereka dengan pembaca belia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengisahkan masa kecil tokoh-tokoh ini dalam cerita anak.

Salah satu contohnya adalah R.A. Kartini. Sekalipun Hari Kartini diperingati di sekolah setiap tahun, sosoknya jarang didiskusikan dengan anak secara mendalam. Cerita “Aku Kartini” mendekatkan sosok Kartini melalui pengisahan masa kecil Kartini. Mengapa ia suka membaca, dan mengapa ia terus membaca sekalipun tidak duduk di bangku sekolah lagi? Pertanyaan-pertanyaan ini mendasari penulisan kisah ini. Demikian pula, masa kecil Rohana Kudus dan kecintaannya terhadap kisah diceritakan dalam “Rohana.” Kedua tokoh wanita ini mendobrak tradisi dan memelopori model pendidikan yang progresif pada masanya. Figur pendidik wanita lain yang juga dihadirkan adalah Een Sukaesih, seorang guru serba bisa di Sumedang yang mengalami lumpuh sekujur tubuh namun tetap aktif membagi ilmunya.

Ibu Guru Hebat ditulis oleh Nurhayati Pujiastuti dan diilustrasikan oleh Hutami Baca Selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/ff642d5a-f653-40af-b1c9-9f92182f5615


Inspirasi Dari Dunia Nyata

Kisah lain dalam seri ini menampilkan tokoh perempuan hebat dalam dunia nyata. Mereka adalah relawan di pengungsian korban bencana alam, anak perempuan penyandang thalassemia, anak penyandang sindrom tetra amalia, dan seorang ibu pegiat taman bacaan. Penulis menuangkan perjumpaan dan pengalamannya dengan tokoh-tokoh ini dalam kisah fiksi sehingga menarik bagi pembaca belia.

Kakak Ompong ditulis oleh Maria Lubis dan diilustrasikan oleh Aprilia Muktirina Baca Selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/d703a0d4-fe0e-474c-a2af-ecfcae9b7d36
Ira Tidak Takut ditulis oleh Dina Novita Tuasuun dan diilustrasikan oleh Dewi Mindasari Baca Selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/9d6d2a26-ead5-4a0b-88ff-87c0775046c7


Pemantik Diskusi Tentang Peran Sosial Perempuan

Diskusi tentang kesetaraan gender tentunya harus berlangsung dalam bahasa yang mudah dipahami dan berangkat dari permasalahan keseharian anak. Beberapa cerita dalam seri ini dapat memantik diskusi terkait peran gender. Beberapa pertanyaan seperti pekerjaan apa yang dapat dilakukan oleh anak perempuan, apakah anak perempuan selalu mudah menangis, dapat didiskusikan setelah membaca cerita ini. Demikian pula, tokoh anak perempuan ditampilkan dengan tidak tipikal, seperti anak perempuan yang tidak bisa duduk diam, yang lihai bermain egrang, dan yang bebas mengkhayalkan pekerjaan yang diinginkannya ketika ia beranjak dewasa. Tokoh-tokoh cerita seperti ini tentu meluaskan cakrawala pembaca belia; tak hanya pembaca perempuan, namun juga laki-laki.

Festival Engrang Sutiha ditulis oleh Tjut Zakiyah Anshari dan diilustrasikan oleh Naafi Nur Rohma Baca Selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/4310e9a1-e704-49a1-9612-2f4848b068a0
Tabuhan Istimewa ditulis oleh Laksmi Manohara dan diilustrasikan oleh Evelline Andrya Baca selangkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/61420cae-f694-4643-be53-3f75d25d117c
Lompat! Lompat! Lompat! ditulis oleh Pristian Wulanita dan diilustrasi oleh Pristian Wulanita Baca selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/3264ca47-bcd0-48ec-86c5-ee08c39f0386
Jadi Apa, Ya? ditulis dan diilustrasi oleh Nabila Adani Baca selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/1c0431b0-ff43-4995-8a3d-711d3ff0b165
Duma Juga Bisa! ditulis oleh Ina Inong dan diilustrasi oleh Poppy Rahayu Baca selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/203e8d02-7768-4b16-8892-ff87ab2501d5
Mengapa Kak Risa Menangis? ditulis oleh Dessy Natalia dan diilustrasi oleh Stella Ernes Baca selengkapnya di https://reader.letsreadasia.org/book/93b8e0bd-27f5-4a2e-adc0-ae5cbb93db21
Quick Contact ^
We want to thank you for contacting us through our website and let you know we have received your information. A member of our team will be promptly respond back to you.