Menyemai Aktivisme di Pelosok Kalimantan Utara

Di tulis oleh Sofie Dewayani (Ketua Yayasan Litara)


Ungkapan bahwa “siswa sekolah tetapi tak belajar” sebetulnya telah eksis sepanjang sejarah institusi sekolah (schooling). Pada penelitiannya yang diterbitkan tahun 1977, Paul Willis mengkritik bahwa sekolah tak otomatis menciptakan mobilitas vertikal. Kalangan pekerja (working-class) yang sekolah tak lantas ‘naik kelas’ menjadi kalangan menengah. Lulus dari sekolah, mereka tetap melakukan pekerjaan bergaji rendah. Dalam bahasa Paulo Freire (1966), ini terjadi apabila sekolah menempatkan siswa sebagai rekening bank yang kosong. Mereka harus selalu siap menerima deposit pengetahuan dari guru. Transaksi mekanistik antara guru dan siswa ini tentu tidak manusiawi karena tidak mengembangkan potensi guru dan siswa. Lulus sekolah tak menjadikan siswa bertransformasi menjadi seseorang yang terdidik dan pembelajar. Demikian pula, guru tak ubahnya robot yang ‘mendepositkan’ muatan dalam buku-buku yang didiktekan dari pusat, tanpa upaya untuk membuatnya bermakna bagi siswa.


Ungkapan bahwa “siswa sekolah tetapi tak belajar” sebetulnya telah eksis sepanjang sejarah institusi sekolah (schooling). Pada penelitiannya yang diterbitkan tahun 1977, Paul Willis mengkritik bahwa sekolah tak otomatis menciptakan mobilitas vertikal. Kalangan pekerja (working-class) yang sekolah tak lantas ‘naik kelas’ menjadi kalangan menengah. Lulus dari sekolah, mereka tetap melakukan pekerjaan bergaji rendah. Dalam bahasa Paulo Freire (1966), ini terjadi apabila sekolah menempatkan siswa sebagai rekening bank yang kosong. Mereka harus selalu siap menerima deposit pengetahuan dari guru. Transaksi mekanistik antara guru dan siswa ini tentu tidak manusiawi karena tidak mengembangkan potensi guru dan siswa. Lulus sekolah tak menjadikan siswa bertransformasi menjadi seseorang yang terdidik dan pembelajar. Demikian pula, guru tak ubahnya robot yang ‘mendepositkan’ muatan dalam buku-buku yang didiktekan dari pusat, tanpa upaya untuk membuatnya bermakna bagi siswa.


Jauh sebelum Freire menggagas “Pedagogi Kaum Tertindas,” Ki Hadjar Dewantara telah melontarkan konsep yang sama pada masa penjajahan Belanda. Beliau mengkritik sistem pendidikan Belanda yang hanya menghasilkan lulusan pribumi yang mengabdi pada kepentingan pemerintah kolonial. Pendidikan, menurut beliau, perlu dijalankan dengan sistem among, yaitu sistem yang memampukan manusia untuk mengatur dirinya sendiri; serta merasa, berpikir, bertindak berdasarkan budi pekerti yang luhur. Pendidikan yang membebaskan ini bertumpu pada azas kemerdekaan. Sejak dini anak harus dimerdekakan batin, pikiran, dan tenaganya. Ketiga syarat inilah yang menjadikan seseorang benar-benar merdeka.


Pendidikan dengan sistem among memampukan seseorang untuk menjadi agen perubahan. Pendidikan ini menajamkan perspektif seseorang terhadap realitas sosial di sekitarnya dan mendorongnya untuk berpartisipasi aktif mengubah realitas tersebut. Pendidikan yang memerdekakan menghubungkan seseorang dalam sebuah komunitas belajar (learning community). Pertanyaannya, bagaimana menumbuhkan kesadaran seseorang untuk berpartisipasi dalam komunitas tersebut? Bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri seseorang bahwa ia memiliki potensi sebagai agen perubahan? Pertanyaan ini menemui tantangannya dalam masyarakat marjinal; salah satunya, mereka yang tinggal di daerah pelosok yang jauh dari pusat kesejahteraan dan kekuasaan.


Studi Willis menemukan bahwa partisipasi seseorang dalam komunitas belajar ditentukan oleh sejauh mana permasalahan yang diperjuangkan oleh komunitas tersebut relevan dengan kehidupannya. Bagi masyarakat di pelosok Kalimantan, yaitu Kabupaten Malinau, kesadaran tentang pentingnya pendidikan abad ke-21 dan berpikir kritis bukanlah sesuatu yang relevan. Namun, sekalipun tinggal di pedalaman, masyarakat di sana juga mengkhawatirkan invasi gawai yang menyita perhatian anak-anak mereka. Mereka pun masih meyakini bahwa pendidikan adalah nilai tambah (sekalipun terkadang kalah prioritas oleh kegiatan berladang) yang menjadikan anak-anak mereka punya daya saing. Kompetensi bagi masyarakat di Malinau bukanlah kecakapan abad ke-21 di era globalisasi yang mungkin samar wujudnya di tempat tinggal mereka. Kompetensi, bagi masyarakat di sini, misalnya berupa kecakapan berkompetisi dengan tenaga kerja asing yang kabarnya mulai terlihat di sana (yang terkadang mereka tanyakan dengan nada percaya – tak percaya). Kepedulian terhadap masa depan anak dan perubahan sosial di kehidupan pedalaman menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan partisipasi mereka sebagai agen perubahan. Tumbuhnya aktivisme perlu berangkat dari permasalahan yang dekat dan kebutuhan nyata yang dihadapi masyarakat di pelosok.  


TBM adalah pusat belajar masyarakat yang dapat menghimpun potensi perubahan sosial. Ia unggul justru karena tidak terikat kepada kurikulum dan struktur yang formal. TBM dapat merumuskan tujuan, visi, dan misi yang berangkat dari permasalahan yang spesifik. Di Kabupaten Malinau, guru dan orang tua menyadari bahwa rendahnya kecakapan literasi anak-anak di pedalaman Malinau merupakan permasalahan yang tak dapat diselesaikan oleh sekolah semata. It takes a village to raise a child. TBM menjadi simpul warga masyarakat dan orang tua yang bersedia berperan aktif sebagai agen perubahan. Pelatihan yang diselenggarakan Litara dan OPOB memupuk peran aktif ini agar terus tumbuh. Tingginya tingkat kehadiran mereka menjadi bukti bersemainya benih aktivisme dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan di pedalaman.  


Pendidikan Among Sebagai Titik Mula Aktivisme

Ki Hadjar Dewantara menggagas pendidikan among untuk memantik ide tentang pendidikan yang memerdekakan. Berpikir merdeka berlangsung seiring dengan proses memeroleh pengetahuan, dan membaca adalah pintu masuknya. Dengan demikian, kegiatan membaca menjadi media pendidikan among sejak usia dini. Titik mulanya adalah menjadikan kegiatan membaca bagi kegiatan ‘bertanya dan mempertanyakan sesuatu’ untuk “memerdekakan batin dan pikiran anak” dalam istilah Ki Hadjar. Jauh sebelum kemampuan memahami bacaan didiagnosis oleh tes internasional seperti PISA, beliau telah memberikan perhatian kepada apa yang disebut ‘kemampuan berpikir tingkat tinggi’ di era modern ini.


Saat ini kemampuan berpikir tinggi menjadi syarat memahami bacaan. Dalam tes PISA maupun tes sejenis di dalam negeri seperti tes INAP dan AKSI, kemampuan pemahaman inferensial dan evaluatif siswa Indonesia masih rendah. Tak heran apabila kegiatan pembelajaran di ruang kelas belum mengeksplorasi kecakapan ini. Di Kabupaten Malinau khususnya, tugas guru dalam meningkatkan kecakapan literasi anak sangat kompleks. Kompleksitas ini merentang dari menyiapkan pengetahuan fundamental, yaitu pengenalan huruf, kesadaran fonem, merangkainya, serta pengetahuan kosakata. Pegiat TBM berperan mengisi ruang yang belum tereksplorasi: membimbing siswa berpikir melalui bacaan. Bertanya dan mempertanyakan, sekalipun merupakan fitrah naluriah manusia, namun tak sederhana bagi mereka yang tak terbiasa. Dalam pelatihan kami, para pegiat diajak untuk membaca cerita lalu mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman literal, inferensial, dan evaluatif terhadap cerita. Bagi pegiat, menjawab pertanyaan literal seperti apa, siapa, di mana, kapan, apa masalah yang dihadapi tokoh cerita serta apa solusinya ternyata bukan hal mudah. Padahal, pemahaman literal merupakan jembatan bagi dua pemahaman lainnya, yaitu inferensial dan evaluatif.

Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk menyusun program apa saja yang akan dilakukan di TBM
Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk menyusun program apa saja yang akan dilakukan di TBM


Kemampuan pegiat untuk membuat asumsi serta menyimpulkan hubungan sebab-akibat dari informasi dalam bacaan dilatih melalui pertanyaan inferensial seperti, “Apa yang terjadi apabila … ?” Dari mana Bapak/Ibu tahu bahwa tokoh … Melihat gambar ini, bagaimana kira-kira perasaan tokoh?” “Mengapa tadi tokoh melakukan hal itu?” Kemudian, pemahaman evaluatif mereka ditumbuhkan melalui pertanyaan, “Tokoh mana yang disukai? Mengapa?” “Apakah Bapak/Ibu setuju dengan hal yang dilakukan tokoh? Mengapa?” Pertanyaan-pertanyaan ini mengembangkan diskusi dalam kelompok. Cerita anak terbukti memancing diskusi tentang permasalahan keseharian yang lalu dapat dikembangkan ke persoalan karakter dan isu sosial lainnya. Diskusi ini lebih kaya ketimbang jawaban pertanyaan tendensius yang sering ditanyakan orang dewasa seusai membacakan cerita, “Apa nilai moral dari cerita ini?”


Misalnya, pegiat TBM umumnya tak menyadari bahwa pertanyaan sederhana dapat membentuk pola pikir dan sikap pembaca belia. Pertanyaan “Bagaimana kira-kira perasaan tokoh?” amat penting di era media sosial ini. Pertanyaan seperti ” Bagaimana kira-kira perasaan teman saya ketika saya menulis status seperti ini di akun media sosial saya?” menjadi penting di kehidupan masyarakat yang cenderung terpolarisasi saat membahas isu-isu politik, sosial, dan agama. Pembaca belia perlu ditumbuhkan kesadaran empatiknya untuk selalu mempertimbangkan perasaan orang lain. Sebagaimana telah ditegaskan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan menumbuhkan daya cipta, rasa, karsa siswa yang membuatnya selaras dengan alam dan masyarakatnya.    


Peran Bacaan yang Baik

Pendidikan among membutuhkan peran bacaan yang baik. Kemampuan pembaca untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi tokoh merupakan kemampuan dasar riset yang diperlukan oleh semua jenjang pendidikan formal. Demikian juga, kemampuan tokoh untuk menyelesaikan masalahnya dalam cerita menjadi cermin bagi pembaca apabila menghadapi permasalahan serupa di dunia nyata. Karena itu, memilih cerita dengan permasalahan yang mewakili keseharian pembaca di dunia nyata dan tokoh cerita yang menyelesaikan masalahnya dengan sikap dan cara berpikir yang khas anak-anak merupakan keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan Litara dan OPOB. Orang dewasa cenderung ingin menjejalkan banyak wawasan bagi anak; dari persoalan yang sederhana seperti kecakapan hidup sehari-hari hingga problematika sosial seperti toleransi dan keberagaman. Pertanyaannya, bagaimana menyajikan tema-tema ini sehingga mudah dicerna pembaca belia? Cerita yang baik seharusnya benar-benar berbicara kepada anak, yaitu yang tokohnya mewakili cara berpikir, bersikap, serta menyelesaikan masalah sebagaimana halnya pembaca sasaran.


Sayangnya, hingga saat ini belum banyak buku-buku seperti ini. Hal ini menjelaskan mengapa kemampuan untuk menyeleksi bacaan yang sesuai untuk pembaca sasaran menjadi penting bagi pegiat TBM. Kesesuaian bacaan dengan jenjang pembaca selayaknya tak hanya ditentukan oleh jumlah kata, proporsi gambar, dan jumlah halaman semata. Pengetahuan pegiat tentang tokoh dan alur cerita menentukan apakah bacaan tertentu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman literal, inferensial, dan evaluatif pada anak.

Ibu Guru Hebat ditulis oleh Nurhayati Pujiastuti dan diilustrasi oleh Hutami
URL for Original Work: https://www.letsreadasia.org
Rudi ditulis dan diilustrasi oleh Ella Elviana
URL for Original Work: https://www.letsreadasia.org


Pegiat TBM di Kabupaten Malinau memiliki banyak pekerjaan untuk dituntaskan. Namun, dengan memahami peran mereka dan relevansinya dengan perubahan sosial, kiranya mereka dapat terus memelihara semangat aktivisme untuk kemudian mengurai permasalahan pendidikan di daerah mereka satu demi satu. Ini adalah pekerjaan besar yang bahkan mereka pun tak tahu kapan dapat menuntaskannya. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh pegiat dari Desa Sentaban, “Kita harus sabar.” Ungkapan sederhana ini sungguh menjadi tak klise di era ini.

Quick Contact ^
We want to thank you for contacting us through our website and let you know we have received your information. A member of our team will be promptly respond back to you.