Events | News

Sebuah Belanga Bernama AFCC 2026

  • Last updated 03 Jun 2026
  • By litaraor
  • Comment

Bayangkan Anda berada di antara ribuan orang dari puluhan negara, lintas usia dari bayi hingga lansia, lintas bahasa pula. Mereka adalah para penulis, ilustrator, penerjemah, pendidik, penerbit, maupun penikmat buku dan cerita anak. Orang-orang ini bergerak dari kelas ke kelas, dari gerai ke gerai, dan dari acara ke acara dari pagi hingga sore untuk mengajar, belajar, berdiskusi, bermain, berbagi, bersenang-senang, bertemu rekan, ataupun berkenalan dengan teman baru. 

Itulah yang dirasakan Tim Litara saat hadir di Asian Festival of Children's Content (AFCC) 2026, yang berlangsung pada 21–24 Mei di National Library Board (NLB) Singapore. Tema AFCC tahun ini adalah "The Worlds We Make". Tema ini seperti berbicara langsung tentang pandangan Litara tentang buku anak, yaitu menghadirkan berbagai dunia melalui cerita-cerita yang memikat, sehingga anak jatuh cinta pada membaca. 

Karena itu, Tim Litara hadir di sana selama empat hari penuh dengan membawa tiga misi. Kami mempersiapkan keberangkatan ini secara saksama. Jauh hari, narasumber Litara mengirimkan dua konsep untuk disajikan di kelas presentasi dan kelas workshop. Begitu kedua konsep dinyatakan diterima, persiapan keberangkatan dilakukan: buku-buku terbitan Litara yang akan diluncurkan dan dipamerkan, banner, hadiah untuk peserta workshop, worksheet yang dirancang khusus, hingga menyiapkan paparan hingga detail terakhir. Kecermatan itu merupakan salah satu upaya kami untuk menghargai forum internasional seperti AFCC 2026 ini. 

Begitu tiba di National Library Board Singapore, suasana perhelatan perbukuan langsung terasa. Arus manusia bergerak di luar dan di dalam Gedung NLB yang memiliki 16 lantai dengan desain modern didominasi kaca. Di perpustakaan inilah AFCC digelar. Hebatnya, arus manusia hilir mudik ini tampak tak mengganggu aktivitas di ruang-ruang baca. Salah satu acara kami dilakukan di salah satu ruangan di sektor The Submarine—Children Biodiversity Library. Khususnya di coral zone, kami mengamati bayi hingga balita membaca bersama orang tua atau pendamping. Ada pula yang bahkan berlarian di antara rak pendek dan karpet empuk, menghamburkan berbagai buku di lantai, dan saling tertawa. Kepada salah satu petugas kami bertanya, “Berapa jam sekali Anda membereskan buku yang berhamburan seperti ini?” Katanya, “Tak terhitung. Selama buku yang berserakan tidak membahayakan anak, kami akan biarkan dulu sebelum ditata. Kadang anak sendiri atau dengan bantuan orang tuanya akan mengembalikan buku ke rak. Take it easy and have fun.

Kembali ke misi-misi Litara. Setelah menyerahkan buku yang akan dipamerkan dan dijual di festival store, kami berkoordinasi dengan panitia terkait kelas-kelas yang akan kami bawakan esok hari. Siap-siap!

Misi Berbagi Ilmu

Presentasi Eva Nukman "Lost Voices, Found Words", tentang bahasa daerah yang meredup dan peran buku anak berbahasa lokal.

Kelas pertama kami adalah presentasi yang disampaikan oleh Eva Nukman, dengan judul Lost Voices, Found Words: Reclaiming the Mother Tongue Through Children's Books in Indonesia. Eva adalah penerjemah, penulis, dan editor yang kini mengkhususkan diri dalam sastra anak dan advokasi literasi. Salah satu karyanya, Misteri di Pasar Terapung, meraih grand prize Samsung Kidstime Author's Award 2015 di Singapura. Eva memperjuangkan literasi multibahasa dan perayaan suara-suara lokal dalam buku anak. Presentasi ini dimoderatori oleh Nur-El-Hudaa, seorang konsultan editorial, penulis, dan penerjemah asal Singapura. Presentasi ini membahas realita yang berat tetapi mendesak: bahasa daerah yang perlahan meredup dari kehidupan anak-anak Indonesia; dan ruang perbaikan yang dapat dilakukan melalui penerbitan buku-buku anak berbahasa daerah. Isu ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, terbukti peserta dari Singapura, Filipina, Tiongkok, dan lain pun berbagi tentang bahasa ibu yang terancam dilupakan, tentang identitas yang bergeser diam-diam dari lingkungan anak-anak.

Workshop Anna Farida "Myth as Nature's Guardian", memadukan mitos lokal, kepedulian lingkungan, dan narasi inklusif.

Pada kelas berikutnya, Anna Farida mengampu workshop menulis bertajuk Myths as Nature's Guardians: Inspiring Young Eco-Warriors through Inclusive Tales. Workshop ini memadukan kearifan lokal dalam bentuk mitos dan kepedulian terhadap lingkungan. Anna adalah penulis dan editor yang berfokus pada isu pendidikan dan literasi keluarga. Dalam workshop interaktif ini, Anna memandu peserta mengenali mitos-mitos dari daerah asal mereka, memilih ide cerita, membangun tokoh, dan menyusun outline narasi yang inklusif sekaligus ramah lingkungan. Anna memandu praktik secara bertahap, diselingi diskusi kelompok dan presentasi ide oleh peserta. Terlihat jelas betapa kaya dan beragamnya tradisi yang dibawa masing-masing peserta. Setelah workshop selesai, beberapa peserta bertekad akan mengembangkan outline yang sudah mendapatkan masukan di dalam workshop. We wish you the best, kami tunggu bukunya!

Misi Meluncurkan Buku

 

Tujuh judul Seri Numerasi resmi kami perkenalkan ke panggung internasional: Selasa yang Tak Biasa, Regu untuk Tapir, Banjir Kucing, Bawa Satu atau Dua?, Sarang Laba-Laba Raksasa, Negeri Tanpa Angka, Kelas Nona Flo, ditambah Pulau Cita-Cita dari Seri Berjenjang yang juga disambut hangat pengunjung festival store.

Setelah dua kelas disampaikan, Tim Litara menggelar peluncuran seri buku numerasi terbaru. Kami mengajak anak-anak membaca buku Regu untuk Tapir, bermain dan bertanya jawab berdasarkan buku itu. Mereka juga ikut melompat-lompat mengikuti lompatan kanguru, dan bersahutan menebak jalannya cerita yang sedang dibacakan. Sungguh, sambutan dan tawa anak-anak adalah seolah memberikan konfirmasi bahwa buku yang kami luncurkan menyampaikan pesan dengan baik. Kami juga membagikan hadiah untuk anak-anak yang mengikuti permainan dalam acara launching tersebut. 

Seri Numerasi yang kami luncurkan di AFCC adalah Selasa yang Tak Biasa, Regu untuk Tapir, Banjir Kucing, Bawa Satu atau Dua?, Sarang Laba-Laba Raksasa, Negeri Tanpa Angka, Kelas Nona Flo, dan beberapa judul lain yang masih dalam proses pengembangan.

Oh, ya. Buku-buku yang diluncurkan hari itu juga mendapatkan sambutan baik di gerai festival, maksudnya ... banyak juga pengunjung yang membeli buku-buku tersebut. Begitu pula buku baru kami Pulau Cita-Cita yang termasuk Seri Buku Berjenjang. Judul mana yang sudah Anda miliki?

Misi Menimba Ilmu

Tetap belajar, walau harus dibantu terjemahan ChatGPT atau Google Translate.

Last but not least, bahkan ini bagian penting, belajar! Selain datang untuk memperkenalkan buku baru dan berbagi ilmu, kami juga menimba ilmu. Kami bukan hanya berdiri sebagai pembicara, tetapi juga bersemangat duduk di kursi peserta. AFCC menghadirkan lebih dari seratus program — panel, workshop, presentasi, masterclass, creator's talk — dalam empat hari. Konsekuensinya? Tidak mungkin kami menghadiri semuanya. Beberapa kali kami harus memilih antara dua kelas yang sama-sama menarik pada jam yang sama. Justru di situlah letak kemewahan AFCC: harus memilih dari terlalu banyak hal yang baik adalah masalah yang menyenangkan.

Kami mengikuti kelas tentang penulisan nonfiksi bertema binatang, sesi gamifikasi cerita anak, dan beberapa public session. Setiap kelas membuka perspektif baru: tentang cara bercerita-termasuk menceritakan tema berat, tentang sudut pandang anak-anak yang sering tak terduga, tentang kemungkinan-kemungkinan yang masih bisa kami eksplorasi lagi.

Kelas lain yang juga unik adalah kelas membuat wordless picture book yang dibawakan oleh ?? Jiu Er, seorang pematung dan ilustrator asal Tiongkok yang memenangkan berbagai penghargaan kelas dunia untuk buku anak. Kelas ini jelas menarik, tetapi ada satu masalah kecil ... eh ... masalah besar: kelas ini berbahasa Mandarin. 

Setelah saling pandang, kami memutuskan untuk tetap ikut. Berbekal AI voice translator, kami berusaha mengikuti alur presentasi—tentu sering tertinggal karena ada jeda antara presentasi dan aplikasi translator kami bekerja. Untungnya, materi wordless book ini masih bisa dinikmati karena  Jiu Er--memperlihatkan karya-karyanya yang bercerita melalui gambar. Walau sambil bolak-balik melihat aplikasi voice translator, kami tetap menikmati setiap halaman yang disajikan, mengikuti aksi tokohnya, dan turut merasakan emosinya.

Pada akhir sesi, dengan bantuan seorang peserta yang berbaik hati bersedia menjadi penerjemah dadakan— terima kasih, siapa pun Anda— kami menyampaikan ini kepada Jiu Er "Walau tanpa tidak memahami sepatah kata pun yang Anda sampaikan, kami menikmati buku yang Anda presentasikan, menikmati cara Anda membawakan sesi ini, dan merasakan sepenuhnya emosi dalam karya-karya Anda. Karena wordless book is beyond language difference."

Jiu Er tersenyum lebar. Xie xie, katanya, dan dia memberikan sebuah buku karyanya sebagai hadiah untuk kami. Ini momen perkenalan kecil sekian menit, antara sesama pencinta dunia buku anak, walau sama-sama tidak memahami bahasa masing-masing. Satu hal yang pasti, buku yang baik itu membuka ruang-ruang pertemuan yang bisa melampaui perbedaan bahasa.

Dunia Bertemu di Halaman Perpustakaan

 

 Kru Litara berdiskusi dengan partisipan dari Australia, Sally Murphy - penulisa dan pendidik serta Kris Williams - the President of The Children's Book Council of Australia (CBCA) in Western Australia, membahas penyediaan buku-buku anak di komunitas/masyarakat.

Kegiatan AFCC bukan hanya terjadi di dalam ruangan. Di luar gedung NLB, kami menikmati festival buku yang terus dikunjungi, pameran ilustrasi, panggung pertunjukan, juga beberapa gerai cendera mata. Di halaman perpustakaan ini suasana terkesan lebih cair, lebih spontan.

Di sanalah banyak pertemuan terjadi. Kami berdiskusi dengan penulis dan ilustrator dari berbagai negara, bertemu dengan kawan-kawan dari Indonesia yang juga hadir. Di sela itu, kami juga berbincang dengan beberapa penerbit internasional, berbagi pengalaman, dan menjajaki kemungkinan kolaborasi. Pertemuan dengan pegiat literasi komunitas dari Australia juga memercikkan inspirasi.

Di halaman, lobi, dan berbagai ruangan perpustakaan itu pula kami membubuhkan catatan khusus bahwa penyelenggaraan AFCC dan pelayanan staf NLB Singapore terasa profesional. Kami mendapati petugas yang berusia lanjut dan masih sigap memberikan informasi ini-itu, juga para sukarelawan yang cekatan memberikan bantuan di setiap program. Mereka helpful sekaligus tegas. Penanggung jawab ruangan selalu siap membantu, ruangan dikelola dengan baik. 

Sebagai pembicara, kami mendapatkan ruangan khusus yang nyaman untuk beristirahat, berdiskusi dengan sesama speaker, lengkap dengan meja teh dan kopi, juga hidangan ringan serta buah-buahan yang tersedia sepanjang hari. Keramahan semacam ini menciptakan suasana yang membuat orang merasa dihargai, dan dari sanalah gagasan dan kolaborasi terbaik bertaut.

Pulang Membawa Lebih Banyak

Empat hari di AFCC terasa tak cukup. Hingga acara ditutup secara resmi, masih banyak ruang yang  mengundang rasa ingin tahu. Karena itulah AFCC ini istimewa, bagaikan belanga besar. Di dalamnya ilmu, budaya, bahasa, perjumpaan lama dan baru, peluang kolaborasi, dan lesson learned dari puluhan negara berpadu bersama–sebagaimana peribahasa asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga. Asam dan garam itulah perumpamaan ilmu, wawasan, dan tentu cita rasa yang dibawa oleh para pecinta cerita anak dari berbagai negara. Sesudahnya, setiap orang pulang membawa kesan dan pengalaman yang berbeda dari belanga yang sama.

Tim Litara pulang setelah membukukan 10.000—12.000 langkah per hari (karena kami ke mana-mana berjalan kaki). MRT hanya kami gunakan dari dan menuju bandara. Selebihnya, biarlah kaki yang berbicara. Kami juga pulang dengan catatan yang penuh, beberapa ide besar yang akan dilakukan di Tanah Air. Kehadiran kami di AFCC bukan sekadar mengikuti festival melainkan juga sebagai penegasan bahwa kerja-kerja kami selama ini merupakan bagian dari percakapan besar tentang membangun kecintaan anak-anak terhadap membaca. Kami akan terus meningkatkan kualitas buku-buku kami dan pemanfaatannya,  for children and the love of reading. Sampai jumpa lagi, AFCC. Thanks for having us there. 

 

Klik tautan di bawah ini untuk mengenal Litara lebih jauh:

https://www.instagram.com/litara.foundation/
http://bit.ly/KatalogLITARA2025